Sa’ad As-Sulami Pengantin Syurga

Posted: September 1, 2011 in My live

Dialah Sa’ad As-Sulami (Rasulullah saw memanggilnya Julabib), seorang tokoh pemuda diantara sahabat Rasul yang berasal dari keluarga terpandang di kabilahnya bani Sulaim. Namun karena ia berkulit hitam, mereka (bani Sulaim) menolak keberadaan Julabib.

Suatu hari ia datang menghadap Rasulullah saw., “Ya Rasulallah, apakah hitamnya kulit dan buruknya wajahku dapat menghalangiku masuk surga?”

“Tidak, selama engkau yakin kepada Rabbmu dan membenarkan Rasul dan risalah yang dibawanya…” jawab Rasulullah saw.

Kemudian Julabib menegaskan, “Demi Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, dan engkau adalah hamba dan Rasul-Nya. Akan tetapi Ya Rasulullah, aku telah mencoba melamar wanita yang ada di sekitar sini dan yang jauh dari sini, dan mereka semua menolakku.”

Maka Rasulullah saw menungkapkan, “Wahai kekasihku Julabib, Maukah engkau aku nikahkan dengan seorang wanita yang pandai dan cantik? Tahukah engkau rumah Amr bin Wahb dari bani Tsaqif? Ia adalah orang yang baru masuk Islam dan memiliki putri yang pandai dan cantik. Datanglah ke rumahnya dan katakan bahwa aku melamarkan putrinya untukmu…”

Dengan gembira berangkatlah Julabib ke rumah Amr bin Wahb r.a. Setelah memberi salam dan masuk ia berkata, “Betulkah Tuan yang bernama Amr bin Wahb dari bani Tsaqif?”

“Betul…” jawab Amr bin Wahb, “Siapa Anda? Dan apa keperluan Anda datang menemuiku?”

“Aku Sa’ad As-Sulami dari bani Sulaim, aku datang karena diutus oleh Rasulullah untuk melamar putrimu.” jawab Julabib.

Keluarga Amr bin Wahb amat senang mendengar berita itu, karena ia mengira bahwa Rasulullah yang melamar putrinya. Maka Julabib pun menjelaskan, “Bukan begitu Tuan…tetapi Beliau saw. memintamu untuk menikahkan aku dengan putrimu.”

Amr bin Wahb pun terkejut dan berkata, “Kamu pasti berdusta..!!!”

Mendengar ucapan yang keras dari Amr bin Wahb, Julabib pergi dengan wajah murung menemui Rasulullah. Sementara itu putri Amr bin Wahb yang mendengar percakapan tadi berkata pada Ayahnya, “Hai Ayah, carilah selamat, carilah selamat! Jangan sampai Allah dan Rasul-Nya murka dan kau akan dipermalukan dengan turunnya ayat dari langit tentang perbuatanmu ini. Jika Allah dan Rasul-Nya rela aku menikah dengan orang itu, maka akupun rela menikah dengannya.”

Amr bin Wahb pun bergegas pergi mengejar, dan segera menemui Rasulullah. Hingga keduanya menghadap kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw bertanya, “Inikah orang yang menolak lamaranku untuk kekasihku Julabib?”

Amr bin Wahb mengakui, “Benar ya Rasul, maafkan kekhilafanku karena aku mengira ia telah berdusta. Jika memang engkau yang memerintahkan, maka aku rela menikahkan putriku dengan pemuda dari bani Sulaim ini.”

Seketika itu Rasulullah saw. pun memimpin pernikahan Sa’ad As-Sulami (Julabib) dengan putri dari Amr bin Wahb bani Tsaqif. Kemudian Rasulullah saw. berkata pada Julabib, “Pergilah pada beberapa orang Muhajirin, datanglah kepada Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.”

Maka Julabib mendatangi mereka semuanya, Abdurrahman bin Auf r.a. memberi bahkan dilebihkan, Utsman bin Affan r.a. memberi serta melebihkan, begitu pun ‘Ali bin Abi Thalib r.a. memberi bahkan melebihkan.

Julabib telah mendapatkan ratusan dirham. Kemudian ia pergi ke pasar untuk membeli mas kawin, dan beberapa pakaian untuk hadiah kepada istrinya yang belum sempat ditemuinya. Tetapi mendadak terdengar seruan, “Wahai kuda-kuda Allah, bergeraklah… bergeraklah…!!!” sebuah tanda seruan untuk berjihad.

Julabib menatap ke arah langit dan berkata, “Ya Allah, kecantikan istriku mungkin takkan sebanding dengan kecantikan surga-Mu, maka aku akan memenuhi panggilan jihad-Mu.”

Maka ia mengembalikan semua belanjaannya, dan membeli baju besi dan kuda serta tameng untuk berperang dan segera dikenakannya. Hingga wajahnya tidak terlihat kecuali hanya kedua matanya.

Ketika tiba dalam barisan, Rasulullah saw mulai mengabsen satu persatu setiap barisannya. Nampak Julabib yang menghindar dari pandangan Rasulullah saw. Ketika Rasulullah bergerak ke arah kiri, ia menyelundup ke arah kanan. Dan begitu sebaliknya. Mungkin Julabib khawatir jika Rasulullah mengetahui keikut-sertaannya maka Rasulullah akan menyuruhnya pulang untuk menemui istrinya terlebih dahulu.

Melihat perbuatan Julabib, Rasul hanya tersenyum. Saat Julabib menyingsingkan lengannya, rupanya Beliau saw. tahu bahwa itu adalah Julabib, seorang pemuda yang baru saja menikah tetapi belum bertemu dengan istrinya. Tetapi Rasul membiarkannya. Sementara orang-orang saling bertanya tentang penunggang kuda baru ini. ‘Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Mungkin ia datang dari Negeri Syam untuk mempelajari agamamu dan melindungimu.”

Tatkala peperangan terjadi, Julabib maju dengan bersemangat, ia bergerak dengan lincah, menghantam ke kiri dan ke kanan, hingga kudanya kelelahan. Ia pun turun dari kudanya dan terus bergerak maju dan maju. Hingga akhirnya peperangan usai.

Ketika pasukan kembali dari medan jihad, Rasulullah saw bertanya, “Di mana kekasihku Julabib?”. Para sahabat hanya saling pandang seraya bertanya-tanya siapakah Julabib yang dimaksud Rasul? Rasulullah mengulang kembali pertanyaannya “Di mana kekasihku Julabib?” seraya berkaca-kaca. Tiga kali pertanyaan itu diungkapkan Rasul, namun tak ada seorang pun yang tahu tentang kabar dan keberadaan Julabib.

Pasukan pun kembali ke medan jihad mencari sosok Julabib. Rupanya Julabib telah syahid. Jasadnya berada di tengah-tengah tujuh mayat orang kafir. Kemudian Rasul berjalan menuju jasad Sa’ad As-Sulami, diletakkan kepalanya dipangkuannya dan dibersihkannya dari debu dengan kain. Lantas Rasulullah saw menangis, kemudian tersenyum, dan kemudian memalingkan wajahnya yang telah memerah.

Maka ditanyakanlah, “Ya Rasulullah, tadi kami melihat engkau begini, begini, dan begini (menangis, tersenyum, lalu memalingkan wajah)?”.

Beliau menjawab, “Aku menangis karena aku akan merindukan seorang Sa’ad As-Sulami (Julabib). Kemudian aku tersenyum karena ia sudah menggenapkan separuh agamanya (nikah), hingga aku melihat ia telah berada di tepian telaga jernih yang tepiannya terbuat dari intan dan permata (surga). Lalu aku memalingkan wajah karena melihat bidadari berkumpul dan berlarian menghampiri Julabib, sedang gaunnya tersingkap hingga aku melihat betisnya. Aku malu melihatnya, karena bidadari itu hanya milik Julabib.”

Sang Pengantin Surga pun telah syahid. Kemudian Rasulullah saw mengumpulkan semua barang dan kendaraan milik Julabib untuk diserahkan kepada putri Amr bin Wahb, seraya berkata, “kataknlah pada Amr bin Wahb, Sesungguhnya Allah telah menikahkan Sa’ad As-Sulami dengan wanita yang lebih baik dari putrimu (bidadari surga).”

 

*** to my wife..

Advertisements
Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s